Rangkuman materi tafsir dan tafsir tarbawi dari pertemuan awal sampai akhir
Nama :
Bung Kasno Abubakar
NIM :
18133016
PRODI : Pendidikan Bahasa Arab
SEMESTER : V (lima)
MK :
Tafsir dan Tafsir Tarbawi
Rangkuman
materi dari awal pertemuan sampai akhir
I. ILMU PENGETAHUAN DALAM AL-QUR’AN
1. Sumber
Memperoleh Ilmu Pengetahuan
Q.S. Al-‘Alaq (96) : 1-5
اقْرَأْ بِاسْمِ
رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (١) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (٢) اقْرَأْ
وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (٣) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (٤) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ
مَا لَمْ يَعْلَمْ(٥)
“1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu
Yang menciptakan, 2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, 3.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia, 4. Yang mengajar (manusia) dengan
perantaran kalam, 5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(Q.S. Surat Al-‘Alaq (96) :1-5).
surat di atas menjelaskan tentang proses pengetahuan yang mendorong
kita untuk menguasai kemampuan membaca dan menulis dalam artia membaca dan
menulis disini yaitu merenungi apa yang telah ciptaaan Allah swt dalam jagat
raya ini. Di dalam surah kata “Iqra”
termasuk ayat Al-Qur’an pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, dengan memerintahkannya membaca sebagai kunci ilmu
pengetahuan, dan di dalam surah tersebut juga terdapat kata “qalam” sebagai
alat transformasi ilmu pengetahuan.
2. Klasifikasi Ilmu Pengetahuan
Menurut pandangan Al-Qur’an ilmu
terdiri atas dua macam ,yaitu ilmu yang diperoleh tanpa usaha manusia ( ‘ilm
laduni) sebagaimana firman Allah swt dalam surat Al-kahfi (18) ayat 65:
فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا
آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا
Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba
Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah
Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.
Penjelasan ayat di atas yaitu, bahwa
ilmu yang diperoleh tanpa melalui proses usaha namun Allah memberikan langsung
kelebihan orang-orang yang telah dipilih.
Yang
kedua ilmu yang diperoleh karena usaha manusia atau di sebut ilmu kasby. sangat
banyak ayat-ayat yang menjelaskan tentang ilmu kasby namun di sini saya hanya
mengambil satu ayat yaitu dalam
Al-Qur’an Surah Al-Isra’ (17) : 85
وَيَسْـَٔلُونَكَ
عَنِ ٱلرُّوحِ ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّى وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ
إِلَّا قَلِيلًا(٨٥(
“85. Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh.
Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi
pengetahuan melainkan sedikit".
Surat di atas menjelaskan tentang roh dan hal ini masih bersifat absrak membutuhkan analisis yang sangat tajam namun kita hanya diberi sedikit pengetahuan tentang ini. Masalah roh di sini yang mengetahui hanya Allah semata.
3. Ayat-Ayat Ilmu Pengetahuan dan
Penafsirannya
Ilmu psikologi dan ilmu alam
Teks
ayat
سَنُرِيهِمْ
ءَايَٰتِنَا فِى ٱلْءَافَاقِ وَفِىٓ أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ
أَنَّهُ ٱلْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ
شَهِيدٌ
Kami
akan memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan Kami di rata-rata tempat (dalam alam
yang terbentang lias ini) dan pada diri mereka sendiri, sehingga ternyata jelas
kepada mereka bahwa al-qur’an adalah benar. Belumkah ternyata kepada mereka
kebenaran itu dan belumkah cukup (bagi mereka) bahwa Tuhanmu mengetahui dan
menyaksikan tiap-tiap sesuatu. (Q.S Fushshilat (41) ayat 53.
Penjelasan ayat di atas ialah menggambarkan fenomena yang
memperlihatkan kekuasaan Allah yang terbentang luas dari ufuk timur dan barat.
Dan apa yang kita kerjakan semuanya diketahui oleh Allah swt. Dan manusia di
tuntut untuk mempelajari fenomena tersebut agar terbentuk keimanan dan
keyakinan kepada Allah swt.
4. Keutamaan Menuntut Ilmu Pengetahuan dalam
Al-Qur’an
Q.S.
Al-Mujadilah (58) : 11
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ
فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ
دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْر
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu,
“Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah
akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka
berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di
antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah
Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Mujadilah (58) : 11)
Ayat di atas menjelaskan bahwa bahwa kita harus memuliakan
orang-orang yang hadir dalam suatu majelis, dan ayat ini juga menjelaskan bahwa
Allah akan menganggat orang-orang yang berilmu beberapa derajat. Sehingga orang yang berilmu
itu tampak berwibawa dan di muliakan orang lain.
II. METODE PENDIDIKAN DALAM AL-QUR’AN
1. Term-Term Metode Dalam Al-Qur’an
kata Thariqah di sini banyak yang
terdapat dalam Al-Qur’an, salah satunya adalah terdapat dalam Q.S. Al-Jinn : 16
وَأَنْ لَّوِ ٱسْتَقَامُوا۟
عَلَى ٱلطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَٰهُمْ مَّآءً غَدَقًا
“Dan sekiranya mereka tetap berjalan lurus di
atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan mencurahkan kepada mereka air yang cukup
(rezeki yang banyak)”.
Penjelasan ayat di atas yaitu bahwa dalam hidup kita harus memiliki
metode atau suatu jalan sehingga dalam mengarungi perjalanan hidup ini tetap
berjalan lurus di atas rel keselamatan sehinnga kita dapat mencapai suatu
tujuan dengan membawahkan hasil yang maksimal.
2. Metode dan Wawasan Al-Qur’an
Ø Metode Eksperimen
يَٰمَعْشَرَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ إِنِ
ٱسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا۟ مِنْ أَقْطَارِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ
فَٱنفُذُوا۟ ۚ لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَٰنٍ
“Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus
(melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat
menembusnya kecuali dengan kekuatan”.
Ayat di atas menjelaskan bahwa ada
tantangan kepada jin dan manusia untuk melakukan suatu percobaan dengan
menembus langit dan bumi. Dengan cara apa yaitu dengan cara melakukan suatu
eksperimen. Metode ini sangat baik diterapkan kepada siswa yaitu
banyak-banyak melakukan suatu percobaan sehingga mendapatkan suatu hasil
yang baik dalam menkaji ilmu pengetahuan.
Ada banyak metode dalam al-qur’an
namun penulis hanya mengambil metode eksperimen sebagai suatu contoh dalam
memahami ilmu pengetahuan dan mengajarkan kepada peserta didik di sekolah.
III.
TANGGUNG JAWAB PENDIDIKAN DALAM AL-QUR’AN
Ada
berbagai macam tanggung jawab pedidikan dalam Al-Qur’an, yaitu tanggung jawab
individu, orang tua sekolah dan masyarakat, namaun yang saya bahas disini yaitu
tanggung jawab pendidikan pada pihak sekolah. Saya ambil dalam al-qur’an surah
al-baqarah (2) ayat 132-133.
وَوَصَّى بِهَا
إِبْرَاهِيْمَ بَنِيْهِ وَيَعْقُوْبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللهَ اصْطَفَى لَكُمُ
الدَّينَ فَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
أَمْ كُنْتُمْ
شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوْبَ اْلمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيْهِ مَا
تَعْبُدُوْنَ مِنْ بَعْدِي قَالُوْا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ
إِبْرَاهِيْمَ وَإِسْمَاعِيْلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهَا وَاحِدًا وَنَحنُ لَهُ
مُسْلِمُوْنَ
Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya,
demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah
telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk
agama Islam”.
Apakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut,
ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?”
Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu,
Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk
patuh kepada-Nya.
Penjelasan ayat di atas yaitu bahwa peran guru dalam menjalankan
pendidikan sangat penting, yaitu membimbing dan mendidik siswa agar tetap
semangat dalam mempelajari ilmu pengetahuan. Tanpa guru suatu pendidikan itu
tidak berjalan dengan efektif maka dari itu tanggung jawab guru terhadap pendidikan sangat diutamakan.
IV. TUJUAN PENDIDIKAN DALAM AL-QUR’AN
Wawasan Al-Qur’an Tentang Tujuan
Pendidikan
1.
Terwujudnya hamba yang mengabdi pada Allah (‘abd)
Q.S. Az-Zariyat (51) : 56
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَلْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya :
“Dan Aku
tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”.
(Q.S. Surah Az-Zariyat [51] : 56).
Penjelasan
ayat di atas yaitu kita d ciptakan hanya semata-mata mengabdi kepada Allah swt
baik itu dari golongan jin maupun manusia. Inilah menjadi tujuan pendidikan
islam.
2. Mempersiapkan individu untuk menjadi
khalifah (pemimpin)
Dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 30
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ
خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ
الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي
أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُون (30
“Ingatlah ketika Tuhan berfirman kedapa para
malaikat; “sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”.
Mereka berkata: “mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang
yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, pada hal kami
senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan
berfirman: sesungguhnya Aku mengetahui
apa yang yang tidak kamu ketahui”.
Penjelasan
ayat di atas yaitu bahwa kita di tugaskan untuk menjadi khalifah/pemimpin di
muka bumi dalam rangka untuk menegakkan visi yaitu terwujudnya perdamai dan
kebahagian selamat di dunia maupun di akhirat.
3. Membina dan memupuk akhlakul karimah
Di jelaskan dalam Q.S. Al-Qalam : 4
وَإِنَّكَ
لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi
pekerti yang agung”
Penjelasan ayat di atas yaitu bahwa
dalam pendidikan islam kita di tuntut berkhlak yang baik, karena jika manusia
kehilangan akhlaknya maka orang itu belum sempurna imannya.
4. Untuk mencapai
kebahagiaan dunia akhirat
Dalam Q.S. Al-Baqarah : 201
وَمِنْهُمْ مَنْ
يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa:
"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan
peliharalah kami dari siksa neraka"
Penjelasan
ayat di atas bahwa di sebagian mereka
ada yang berdoa kepada Allah untuk keselamatan di dunia dan di akhirat dan di
jauhi dari siksa neraka.
V. KONSEP AL-QUR’AN TENTANG ‘ABD, INSAN, BASYAR
1.
Konsep Al-Qur’an Tentang ‘Abd
Q.S. Az-Zariyat (51) : 56
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَلْإِنْسَ
إِلَّا لِيَعْبُدُون
“Dan Aku tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”.
Penjelasan
ayat di atas tentang tujuan penciptaan jin dan manusia yaitu semata-mata hanya
beribadah kepada Allah swt.
2. Konsep Al-Qur’an Tentang Insan
Q.S. Al-Mu’minun : ayat 12-13
وَلَقَدْ
خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ مِن سُلَٰلَةٍ مِّن طِينٍ (12) ثُمَّ جَعَلْنَٰهُ نُطْفَةً
فِى قَرَارٍ مَّكِينٍ (13)
"Dan
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari
tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat
yang kokoh (rahim)”.
Penjelasan ayat di atas terdapat kata
al-Insan, kata al-Insan di sini menunjukkan
pada proses kejadian manusia, kata insan ini berhubungan dengan proses penciptaan manusia,
baik itu proses penciptaan Adam maupun proses penciptaan manusia setelah Adam
yaitu di alam kandungan yang berlangsung secara berkesinmbungan.
3. Konsep Al-Qur’an Tentang Basyar
Q.S. Al-Mu’minun : 12-14
وَلَقَدْ
خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ مِن سُلَٰلَةٍ مِّن طِينٍ (12) ثُمَّ جَعَلْنَٰهُ نُطْفَةً
فِى قَرَارٍ مَّكِينٍ (13) ثُمَّ خَلَقْنَا ٱلنُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا ٱلْعَلَقَةَ
مُضْغَةً فَخَلَقْنَا ٱلْمُضْغَةَ عِظَٰمًا فَكَسَوْنَا ٱلْعِظَٰمَ لَحْمًا ثُمَّ
أَنشَأْنَٰهُ خَلْقًا ءَاخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ أَحْسَنُ ٱلْخَٰلِقِينَ 14
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan
manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan
saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) Kemudian
air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan
segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu
tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia
makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling
Baik”.
Dalam
ayat di atas menjelaskan tentang proses kejadian manusia, yaitu berhubungan
dengan proses kejadian dan fase perkembangan manusia dari awal sampai
menjadi makhluk yang sempurna dan sebagai makhluk bersosial dan makhluk biologis.
VI. KONSEP PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP
Pendidikan
Seumur Hidup dalam Al-Qur’an
1. Pendidikan Pranatal (pendidikan sebelum
masa kelahiran)
a. Fase perkawinan / pernikahan
Dalam fase perkawinan ada beberapa
aspek
Q.S. An-Nahl : ayat 72.
وَاللّٰهُ
جَعَلَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا وَّجَعَلَ لَكُمْ مِّنْ
اَزْوَاجِكُمْ بَنِيْنَ وَحَفَدَةً وَّرَزَقَكُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِۗ
اَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُوْنَ وَبِنِعْمَتِ اللّٰهِ هُمْ يَكْفُرُوْنَۙ
“Dan Allah menjadikan bagi kamu istri-istri
dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu
anak-anak dan cucu”. (Q.S. An-Nahl : 72).
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa dalam memilih istri harus dalam
datu agama tidak dianjurkan menikahi non muslim dan pernikahan ini ialah agar
kita terhindar dan terpelihara dari perbuatan maksiatsehingga kita dapat
selamat di dunia dan akhirat. Dan perkawinan di sini untuk mendapatkan
keturunan dengan tujuan melanjutkan generasi ke dapan dan merupakan salah satu
ibadah, dan juga merupakan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.
2. Pendidikan Pasca (
Tarbiyah Ba’’da Al-Wiladah)
Dalam
pendidikan pasca natal di sini ada beberapa fase yang harus dilalui yaitu dari
fase bayi, fase kanak-kanak, fase anak-anak, fase remaja dan fase dewasa.
Di
sini penulis menjelaskan tentang fase anak-anak sebagaimana dijelaskan dalam
al-qur’an surat lukman ayat 13-19 sebagai berikut:
وَاِذۡ قَالَ لُقۡمٰنُ لِا بۡنِهٖ
وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَىَّ لَا تُشۡرِكۡ بِاللّٰهِ ؕاِنَّ الشِّرۡكَ لَـظُلۡمٌ
عَظِيۡمٌ
وَوَصَّيۡنَا الۡاِنۡسٰنَ
بِوَالِدَيۡهِۚ حَمَلَتۡهُ اُمُّهٗ وَهۡنًا عَلٰى وَهۡنٍ وَّفِصٰلُهٗ فِىۡ
عَامَيۡنِ اَنِ اشۡكُرۡ لِىۡ وَلِـوَالِدَيۡكَؕ اِلَىَّ الۡمَصِيۡرُ
وَاِنۡ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنۡ
تُشۡرِكَ بِىۡ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهٖ عِلۡمٌ ۙ فَلَا تُطِعۡهُمَا وَصَاحِبۡهُمَا
فِى الدُّنۡيَا مَعۡرُوۡفًاۖ وَّاتَّبِعۡ سَبِيۡلَ مَنۡ اَنَابَ اِلَىَّ ۚ ثُمَّ
اِلَىَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَاُنَبِّئُكُمۡ بِمَا كُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ
يٰبُنَىَّ اِنَّهَاۤ اِنۡ تَكُ
مِثۡقَالَ حَبَّةٍ مِّنۡ خَرۡدَلٍ فَتَكُنۡ فِىۡ صَخۡرَةٍ اَوۡ فِى السَّمٰوٰتِ
اَوۡ فِى الۡاَرۡضِ يَاۡتِ بِهَا اللّٰهُ ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَطِيۡفٌ خَبِيۡرٌ
يٰبُنَىَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ
وَاۡمُرۡ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَانۡهَ عَنِ الۡمُنۡكَرِ وَاصۡبِرۡ عَلٰى مَاۤ
اَصَابَكَؕ اِنَّ ذٰلِكَ مِنۡ عَزۡمِ الۡاُمُوۡرِۚ
وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ
وَلَا تَمۡشِ فِى الۡاَرۡضِ مَرَحًا ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٍ
فَخُوۡرٍۚ
وَاقۡصِدۡ فِىۡ مَشۡيِكَ وَاغۡضُضۡ
مِنۡ صَوۡتِكَؕ اِنَّ اَنۡكَرَ الۡاَصۡوَاتِ لَصَوۡتُ الۡحَمِيۡرِ
13. Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia
memberi pelajaran kepadanya, "Wahai anakku! Janganlah engkau
mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar
kezhaliman yang besar."
14. Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada
kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang
bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku
dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.
15. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan
sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau
menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah
jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu,
maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
16. (Lukman berkata), "Wahai anakku! Sungguh, jika ada
(sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit
atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah
Mahahalus, Mahateliti.
17. Wahai anakku! Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia)
berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah
terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara
yang penting.
18. Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena
sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak
menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.
19. Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.
Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai."
Penjelasan ayat di atas yaitu dalam mendidik anak harus ada dialog
antara anak dan bapak sebagaimana dalam kisah antara Nabi Ibrahim dan anaknya
ismail. Nabi ibramin tidak lngsung mengambil keputusan sendiri namun beliau
menanyakan kepada anaknya. Dan sebagai orang tua harus menanamkan ketauhidan dan
keimanan kepada anak dari sejak kecil sehingga anak tersebut tumbuh dengan
menjadi pribadi yang takut kepada Allah. Dan juga menamkan rasa sabar dalam
mengarungi kehidupan ini ini, dan diajarkan bagaimana hidup yang sederhana dan
sebagainya.
Komentar
Posting Komentar