Rangkuman materi konsep Al-Qur'an tentang 'abd, insan dan basyar
Nama: Bung Kasno Abubakar
NIM: 18133016
Kelas: PBA1
MK: Tafsir & Tafsir Tarbawi
Rangkuman Materi
KONSEP AL-QUR’AN TENTANG
‘ABD,
INSAN, BASYAR
Banyak
ayat Al-Qur’an yang membahas tentang manusia. Pembahasan-pembahasan ayat
tentang manusia tersebut sangatlah menarik disebabkan manusia yang unik dan
penuh misteri dalam tabiatnya. Yakni bersentuhan dengan nama-nama manusia
Al-ihsan, Al-Basyar, Bani Adam dan An-nass. Nama-nama manusia:
a. 1. Al-Ihsan
di mana manusia ditinjau dari kelompoknya atau secara keseluruhan dibahas dalam
Al-qur’an
b. 2. Al-Basyar
di mana manusia dilihat dari seorang diribukan dari kelompok.
c.
Bani
Adam di mana manusia sebagai abid
d. 3. An-nass manusia dilihat dari segala permasalahan hidupnya.
Pembahasan disini lebih difokuskan kepada tiga konsep penamaan
manusia yaitu, ‘abd, insan dan basyar.
Disini kita akan bahas satu per satu apa itu konsep al-qur’an
tentang ‘abd, insan dan basyar sebagai berikut:
1. 1. Konsep
Al-Qur’an tentang ‘abd
Manusia itu pada hakikatnya adalah turunan dari manusia pertama
yang bernama Adam, karena itulah disebut Bani Adam (keturunan Adam), jawaban
ini tentu tidak salah, tetapi ada rahasia yang sangat agung kenapa manusia
disebut sebagai Bani Adam. Ditegaskan oleh Allah SWT dalam al-qur’an surah
al-Isra’ ayat 70:
وَلَقَدْ
كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ
وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ
خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا ࣖ
Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezi yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan.
Allah
memuliakan manusia dengan bias berjalan tegak di atas kedua kakinya, bias
mengambil makanan dengan kedua tangannya, sedangkan makhluk yang lain tidak
bisa melakukan dua hal tersebut secara bersamaan, mereka berjalan dengan
keempat kakinya dan mengambil maka dengan mulutnya. Manusia juga dimuliakan
oleh Allah dengan memberi mereka pendengaran, penglihatan dan hati, di mana
ketiganya merupakan modal yang berharga untuk memahami segala hal, kemudian
mengambil manfaat dari hal tersebut. Selain itu tiga alat ini merupakan modal
dalam membedakan segala sesuatu, mengetahui manfaatnya, mengetahui keistimewaan
serta kemudaratannya, baik untuk urusan dunia maupun akhirat. Dan sesungguhnya
manusia mempunya kegiatan untuk selalu mengabdi kepada penciptanya yang telah
memberikan modal untuk tunduk dan patuh kepada Tuhan yang dikenal dengan
istilah ‘abd. Kata ‘abd di samping mempunyai budak atau hamba, dalam pengertian
negative. ‘abd juga mempunyai pengertian positif, yaitu dalam hubungan antara
manusia dengan penciptanya. Kata ‘abid dalam al-qur’an dipakai untuk menyebut
semua manusia dan jin.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan
manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Q.S Adz-zariyat:56).
Kata “ibadah” diartikan sebagai
sesuatu kegiatan penyembahan, atau pengabdian kepada Allah dalam pengertian
sempit, kata ibadah hanya menunjuk pada sega aktivitas pengabdian yang sudah
digariskan olh syariat islam, baik bentuknya, caranya, waktunya serta syarat
dan rukunnnya. Sedangkan dalam pengertian luas, ibadah tidak hanya terbatas
pada hal-hal yang disebut di atas, namun
mencakup segala aktivitas pengabdian
yang ditujukan kepada Allah semata. Dalam ayat ini dinyatakan bahwa
Allah menciptakan manusia melainkan agar tujuan atau kesudahan aktivitas mereka
adalah beribadah kepada-Ku. Ibadah dalam islam lebih merupakan amal shaleh dan
latihan spiritual yang berakar dan diikat oleh makna yang hakiki dan bersumber
dari fitra manusia.
Penyebutan al-jinn/jin dari kata
al-ins karena jin lebih dahulu diciptakan Allah dari pada manusia. Kata lam
pada kata li ya’budun oleh pakar bahasa berarti kesudahan atau dampak dan
akibat sesuatu. Dimana disini ditekankan bahwa ibadah bukan hanya sekedar
ketaatan dan ketundukan tetapi ibadah adalah satu bentuk ketaatan dan
ketundukan yang puncaknya akibat adanya rasa keagungan dan jiwa seseorang
terhadap siapa yang kepadanya dia mengabdi. Ia juga merupakan dampak dari
keyakinan bahwa pengabdian itu tertuju kepada yang memiliki kekuasaan yang
tidak terjangkau arti hakikatnya.
Disimpulkan bahwa hakikat penciptaan
manusia di muka bumi sebagai khalifah Allah dan juga sebagai ‘abd Allah,
bukanlah dua hal yang bertantangan, tetapi merupakan satu kesatuan yang tak
terpisahkan. Kekhalihannya adalah realisa dari pengabdiannya kepada Tuhan yang
menciptakannya. Kedudukan manusia sebagai khalifah dan ‘abd pada dasarnya
merupakan kesatuan pembentuk kebudayaan. Kebudayaan dibentuk oleh adanya
pemikiran terhadap alam sekitarnya dan pemahaman terhadap hokum-hukumnya yang
kemudian diwujudkan dalam tindakan.
2.
Konsep
Al-Qur’an tentang insan
Al-insan
terbentuk dari kata ينس-نسي yang berarti lupa. Kata insan bila dilihat
asal kata al-nas, berarti melihat, mengetahui, dan minta izin. Atas dasar ini,
kata tersebut mengandung petunjuk adanya kaitan substansial antara manusia
dengan kemampuan penalarannya. Manusia dapat mengambil pelajaran dari hal-hal
yang dilihatnya, dapat mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, serta
dapat meminta izin ketika akan mengggunakan sesuatu yang bukan miliknya.
Penggunaan
kata al-insan pada umumnya digunakan pada keistimewaan manusia penyandang
predikat khalifah di muka bumi, sekaligus dihubungkan dengan proses
penciptaannya. Keistimewaan tersebut karena manusia merupakan makhluk psikis di
samping makhluk psikis yang memiliki potensi dasar, yaitu fitrah akal dan
kalbu. Potensi ini menempatkan manusia sebagai makhluk Allah SWT yang mulia dan
tertinggi dibandingkan makhluk-Nya yang lain.
Quraish
Shihab dalam bukunya wawasan Al-qur’an mengatakan bahwa kata insan terambil
dari akar kata uns yang berarti jinak, harmonis dan tampak. Menurut pendapat
ini jika ditinjau dari sudut pandang Al-qur’an lebih tepat dari yang
berpendapat bahwa ia terambil dari kata nasiya (lupa), nasa-yanusu
(berguncang). Kata Insan, digunakan Al-qur’an untuk menunjuk kepada manusia
dengan seluruh totalitasnya, jiwa dan raga. Manusia yang berbeda antara
seseorang dengan dengan yang lain, akibat perbedaan fisik, mental dan
kecerdasan. Potensi manusia menurut konsep al-insan diarahkan pada upaya
mendorong manusia untuk berkreasi dan berinovasi. Manusia dibekali Tuhan dengan
potensi dan kekuatan positif untuk merubah corak kehidupan di dunia ke arah
yang lebih baik.
Kata al-Insan juga menunjukkan pada proses kejadian manusia, baik proses penciptaan Adam maupun proses manusia pasca Adam di alam rahimyang berlangsung secara utuh dab berproses. Dalam al-qur’an dinyatakan:
Dalam Tafsir al-Azhar disebutkan
bahwa: setalah Tuhan mewahyukan betapa sikap seorang mu’min sehingga iman itu
tumbuh dan subur, Tuhan memberi ingat supaya dia menekar merenung dirinya,
betapa asal kejadiannya, dari mana datangnya, betapa dia hidup dan ke mana dia
kembali. Ini amanat perlu diingatkan kepada manusia, sebab gelombang hidup
kerapkali menyebabkan manusia lupa. Apalah yang dibanggakan manusia di dunia
ini, pada hal asal kejadiannya hanya dari tanah.
Al-insan
memiliki arti melihat, mengetahui, dan minta izin. Istilah ini menunjukkan
bahwa manusia memiliki kemampuan menalar dan berpikir disbanding dengan makhluk
lainnya. Manusia dapat mengambil
pelajaran dari apa yang dilihatnya, mengetahui yang benar dan yang salah, serta
meminta izin ketika menggunakan sesuatu yang bukan miliknya. Manusia dalam
istilah ini merupakan makhluk yang dapat dididik, memiliki potensi yang dapat
digunakan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Potensi manusia menurut konsep
al-insan diarahkan pada upaya mendorong manusia untuk berkreasi dan berinovasi.
Manusia
sebagai makhluk psikis (al-insan) mempunyai potensi rohani seperti fitrah,
qolbu dan akal. Potensi itu menjadikan manusia sebagai makhluk yang mempunyai
kedudukan tinggi dan berbeda dangan makhluk lainnya. Apabila manusia tidak
menjalankan fungsi psikisnyaia tidak ubahnya seperti binatang bahkan lebih
hina. Selain itu manusia termasuk makhluk yang lalai, sehingga sering lupa
tugas dan tanggung jawabnya sehingga mengakibatkan manusia terjerumus dalam
pendiritaan hidup.
Konsep al-nas manusia adalah makhluk social, ia diciptakan sebagai makhluk yang bermasyarakat, yang berawal dari pasangang laki-laki dan wanita, kemudian berkembang biak menjadi suku bangsa untuk saling mengenal.
3. 3. Konsep
Al-Qur’an tentang Basyar
Kata manusia yang disebut Al-qur’an dengan menggunakan kata basyar
menyebutkan, bahwa yang dimaksud dengan manusia basyar adalah, menunjukkan
bahwa manusia adalah anak keturunan Nabi Adam as dan makhluk fisik yang juga
suka makan serta minum. Kata basyar disebutkan sebanyak 36 kali dalam bentuk
tunggal dan hanya sekali dalam bentuk mustsanna atau jamak. Sebagai makhluk
yang bersifat fisik, manusia tidak jauh berbeda dengan makhluk biologis
lainnya. Kehidupan manusia terikat dengan kaidah prinsip kehidupan biologis
seperti berkembang biak. Mengenai proses dan fase perkembangan manusia sebagai
makhluk biologis, ditegaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ مِن
سُلَٰلَةٍ مِّن طِينٍ
ثُمَّ جَعَلْنَٰهُ نُطْفَةً فِى
قَرَارٍ مَّكِينٍ
ثُمَّ خَلَقْنَا ٱلنُّطْفَةَ
عَلَقَةً فَخَلَقْنَا ٱلْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا ٱلْمُضْغَةَ عِظَٰمًا
فَكَسَوْنَا ٱلْعِظَٰمَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَٰهُ خَلْقًا ءَاخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ
ٱللَّهُ أَحْسَنُ ٱلْخَٰلِقِينَ
12. Dan sesungguhnya kami
telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal dari tanah). 13.
Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang
kokoh (Rahim). 14. Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu
segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami
jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian
kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah
Allah, pencipta yang paling baik.
Qur’an surah al-mu’minun ayat 12-14 menyimpulkan bahwa kualitas
kehidupan manusia ditentukan melalui delapan fase kehidupan. Fase-fase itu
antara lain.
1. a. Tanah
sebagai proses awal
2. b. Proses
yang berasal dari air mani (nutfah)
3. c. Proses
(melekat) ‘alaqah
4. d. Proses
menjadi segumpal daging (mudghah)
5. e. Proses
menjadi tulang belulang
6. f. Proses
menjadi daging (lahmah)
7. g. Proses
peniupan roh
8. h. Proses
kelahiran ke muka bumi.
Proses kejadian manusia ini sejalan dengan apa yang dijelaskan
berdasarkan analisis ilmu pengetahuan.
Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa manusia dalam konsep al-basyar ini dapat berubah fisik, yaitu
semakin tua fisiknya akan semakin lemah dan akhirnya meninggal dunia. Dan dalam
konsep al-basyar ini pula al-basyar ini juga dapat tergambar tentang bagaimana
seharusnya peran manusia sebagai makhluk biologis. Bagaiman dia berupaya untuk
memenuhi kebutuhannya secara benar sesuai tuntunan penciptanya. Yakni dalam
memenuhi kebutuhan primer, sekunder dan tersier.
Secara sederhana,
Quraish Shihab menyatakan bahwa manusia dinamai basyar karena kulitnya yang
tampak jelas dan berbeda dengan kulit-kulit binatang yang lain. Pemaknaan manusia
dengan Al-Basyar memberikan pengertian bahwa manusia adalah makhluk biologis
serta memiliki sifat-sifat yang ada di dalamnya, seperti makan, minun, perlu
hiburan, seks dan lain sebagainya.
HUBUNGAN PENDIDIKAN DENGAN Q.S AL-ISRAA:1
Manusia adalah objek pendidikan. Dimensi-dimensi abdun di mana di
dalamnya ada unsur-unsur ruh dan badan (tubuh yang kasar) immaterial dan
material. Oleh karena itu manusia mempunyai tubuh kasar maka berpotensi untuk
didik.
Ruh dibagi menjadi 3 yaitu:
1. 1. Akal
(berpotensi beraktivitas ada pada kepala, sehingga menghasilkan pemikiran
intelektual yang cemerlang.
2. 2. Qolbun,
yang dalam kesehariannya fungsi hati, sangat berperan dalam melahirkan akhlak,
etika, dan perasaan.
3. 3. Fuad
istilah asingnya (hand0 dengan tangan manusia yang sempurna mampu melahirkan
keterampilan-keterampilan.
Jadi badan manusia yang mau didik membuktikan bahwa rasa pengabdian
(abd) kepada ilahi dibuktikan dengan adanya kemamuan untuk memperoleh
pendidikan dan pengajaran. Sehingga orang-orang yang mau didik itulah kelak
ahli di bidangnya masing-masing.
Ibnu Khaldun memunculkan kriteria ilmu ahliah yaitu:
1.
Ilmu
yang diperoleh dari kerja otak di mana yang bisa berfikir adalah manusia
makanya pendidikan islam dibagi 2 yaitu teoritis dan praktis
2.
Manusia
dengan konseb abd berpotensi untuk didik.
Q.S al-israa: 1 menerangkan tentang konsep abd, insan dan basyar. Di mana maksud dengan hamba-Nya di dalam ayat ini ialah Nabi Muhammad saw yang telah terpilih sebagai nabi yang terakhir dan telah mendapat perintah untuk melakukan perjalanan malam, yang semata-mata karena perintah Allah. Sesungguhnya konsep abd adalah manusia yang terpilih dengan dimensi ruh dan badan yang berpotensi dalam menerima perintah Allah. Di dalam ayat Allah menyebutkan alasan mengapa Nabi Muhammad saw di bawah berjalan pada malam hari, yaitu Allah SWT dapat memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kebesaran-Nya, yaitu tanda-tanda yang dapat disaksikan oleh Muhammad saw dalam perjalanan itu, berupa pengalaman-pengalaman yang berharga yang dialaminya dalam perjalanan dari masjidilharam ke masjid Aqsa itu, karena sifat abd, insan, dan basyar yang ada pada diri Rasulullah yaitu ketabahan hati dalam menghadapi berbagai macam cobaan, dan betapa luasnya jagat raya serta aangkah Agungnya Maha penciptaNya. Ketabahan yang dimaksud difungsinya akal, qolbun dan fuad sehingga dalam diri Rasulullahtercermin kriteria manusia yang berpotensi untuk dididik.
Komentar
Posting Komentar