Rangkuman tentang metode pendidikan perspektif Al-Qur'an.
Nama : Bung Kasno Abubakar
NIM : 18133016
Prodi : Pendidikan Bahasa Arab
MK : Tafsir Dan Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampuh : H. Muh. Amri, Lc, M. Th.I
Rangkuman materi pertemuan ke 7
METODE PENDIDIKAN DALAM AL-QUR’AN
a. Pengertian Metode dan Karakteristiknya
Metode berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata meta dan hodos, meta berarti yang dilalui dan hodos berarti jalan. Yang dimaksud dengan jalan di sini adalah suatu tata cara, tindakan atau amaliyah yang diamalkan menurut metode-metode tertentu yang telah ditetapkan oleh masing-masing perumus aliran yang tertentu pula. Misalnya seorang guru yang mengajarkan shalat pada muridnya, dia menunjuki dan membimbing bagaimana caranya melakukan ibadah shalat itu.
Maka metode adalah cara yang tetap untuk melakukan sesuatu. Sesuatu yang dilakukan biasanya memiliki tujuan tertentu, tergantung kepada tujuan yang ingin dicapainya. Demikian juga dengan metode, pengertiannya menjadi berbeda-beda sesuai dengan bidangnya. Menurut Surachnad metode adalah cara yang dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan. Menurut Abu Bakar Aceh, thariqah artinya jalan, petunjuk untuk melakukan sesuatu sesuai dengan ajaran yang ditentukan dan dicontohkan oleh nabi dan dikerjakan oleh sahabat-sahabatnya, dan tabi’in secara turun temurun sampai kepada guru-guru sambung menyambung dan rantai berantai. Menurut Abuddin Nata metode sebagai cara untuk memahami, menggali, dan mengembangkan ajaran Islam, sehingga terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.
Metode-metode pendidikan ini memiliki karakteristik sebagaimana yang ditemukan as-Syaibani yaitu:
Mendasarkan metode pendidikan kepada perilaku islami, sebab pendidikan adalah dalam rangka beribadah kepada Allah.
Menyesuaikan metode pendidikan dengan keadaan peserta didik dan lingkungan pendidikan.
Menggunakan metode pendidikan yang dapat memadukan antara teori dangan fakta dan antara tekstual dengan kontekstual.
Memberi kesempatan berpendapat pada peserta didik dengan mengutamakan argumen yang logis dan dalam batas kesopan dan saling hormat menghormati.
b. Term-Term Metode Dalam Al-qur’an
Metode dalam bahasa Indonesia diartikan dengan cara, dalam bahasa Arab kata thariqah berasal dari kata tharq yang berarti mengetuk, thariqah jamaknya tharaiq yang berarti jalan atau petunjuk jan atau cara.
Jika ditelusuri kata thariq dalam Al-qur’an, ada beberapa ayat yang langsung mengungkapkan.
Berikut ayat-ayat yang langsung lafal thariq:
Surah at-Ahqaf ayat 30 yang berbunyi:
قَالُوا۟ يَٰقَوْمَنَآ إِنَّا سَمِعْنَا كِتَٰبًا أُنزِلَ مِنۢ بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِىٓ إِلَى ٱلْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ
“mereka berkata. “ Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-qur’an) yang telah diturunkan seaudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus”.
Surah al-Mukminum ayat 17 yang berbunya:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعَ طَرَائِقَ وَمَا كُنَّا عَنِ الْخَلْقِ غَافِلِينَ
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan (tujuh buah langit), dan Kami tidaklah lengah terhadap (Kami).’’
Surat an-Nisa’ ayat 168 yang berbunyi:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَظَلَمُوا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلَا لِيَهْدِيَهُمْ طَرِيقًا
“sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka”.
Dalam surat yang sama juga ada pada ayat 169 yang berbunyi:
إِلَّا طَرِيقَ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرًا
“kecuali jalan ke neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”.
Surat Thaha ayat 63 yang berbunyi:
قَالُوٓا۟ إِنْ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخْرِجَاكُم مِّنْ أَرْضِكُم بِسِحْرِهِمَا وَيَذْهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ ٱلْمُثْلَى
“Mereka berkata: “ Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama”.
Pada surat yang sama ada juga disebutkan pada ayat 77 yang berbunyi:
وَلَقَدْ أَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِي الْبَحْرِ يَبَسًا لا تَخَافُ دَرَكًا وَلا تَخْشَى
“ Dan sesungguhnya telah kami wahyukan kepada Musa .”Pergilah kamu dengan hamba-hamba Ku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam).
Pada ayat 104 juga disebutkan:
نَّحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُولُونَ إِذْ يَقُولُ أَمْثَلُهُمْ طَرِيقَةً إِن لَّبِثْتُمْ إِلَّا يَوْمًا
“ Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan , ketika orang yang paling lurus jalannya di antara mereka:” kamu tidak berdiam (di dunia), melainkan hanya sehari saja.”
Surah jin ayat 16
وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا
“Dan bahwasanya: jikakau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu, (agama Islam), benar-benar kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak).”
c. pembahasan Ayat-Ayat Metode Pendidikan Melalui Tafsir Maudhu’i
tafsir maudhu’i adalah penjelasan ayat-ayat Al-qur’an yang membicarakan sesusuatu mengenai judul. Topik tertentu.
Menurut Abdul Hayy al-Farmawi tafsir maudhu’i adalah pengumpulan ayat-ayat yang mempunyai maksud yang sama membicarakan satu topik masalah dan menyusunnya berdasarkan kronologi serta sebab turunnya ayat-ayat tersebut, kemudian memperhatikan ayat-ayat tersebut dengan penjelasan, keterangan-keterangan dan hubungannya dengan ayat yang lain serta mengistinbat hukum-hukum yang mengkhususkannya dalam kajian tematik.
Zahir I’wad al-Alma’i menyebutkan tafsir maudhu’i adalah ungkapan tentang pengumpulan ayat-ayat Al-qur’an yang berbicara mengenai topik (tema yang sama), yang mempunyai tujuan yang sama dan menyusunnya sesuai dengan urutan turunnya ayat-ayat Al-qur’an, ini dilakukan jika memungkinkan. Selanjutnya diterangkan secara terperinci dengan menguraikan tentang hikmah syari’at yang terdapat di dalamnya meliputi seluruh aspek tema sebagaimana terdapat dalam Al-qur’an, kemudian mengungkapkan pembahasan tentang aspek-aspek tersebut supaya terhindar dari keraguan yang dihembuskan oleh musuh-musuh agama, yaitu orang yang sesat atau ateis.
Abdul Sattar, tafsir maudhu’i adalah ilmu yang membahas tema-tema Al-qur’an yang sama makna dan tujuannya, dengan cara mengumpulkan ayat-ayat dari berbagai surat, kemudian mengkajinya dengan pola tertentu.
Jadi mussafir mencari dan menentukan tema-tema atau topik-topik bahasan yang ada di tengah-tengah masyarakat atau berasal dari masyarakat berasal dari Al-qur’an itu sendiri, atau dari yang lain.
1.Metode diskusi
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantulah mereka dengan cara yang baik. Sesunggunya Tuhanmu Dialah yang mengetahuiorang-orang yang dapat petunjuk.
Pelajaran yang baik “Bi al-mau ‘izah al-hasanah pada ayat di ats dapat dikatakan sebagai metode diskusidengan memperhatikan pada jelasan tafsir.
Metode diskusi dalam pendidikan Islam disebut dengan dengan metode hiwar adalah suatu cara penyajian/penampaian bahan pelajaran dimana pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didik / berbicara dan menganalisis secara ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesempulan atau menyusun berbagai alternatif pemecahan atas sesuatu masalah.
2.Metode tanya jawab
Metode tanya jawab adalah suatu cara mengajar dimana seorang guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada murid tentang bahan pelajaran yang telah diajarkan atau bacaan yang telah mereka baca. Metode ini banyak terdapat dalalm al-qur’an salah satunya dalan al-qur’an surah assafat 100-108
Artinya” ( 100) ya, Tuhanku anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. (102) Maka takala anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelimu, maka pikirkanlah apa pendapat mu. Ia menjawab, hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyah Allah kamu mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (103). Takala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, nyatalah kesabaran keduanya. (104). Dan kami panggillah dia, hai Ibrahim. (105).sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (106). Sesungguhnya itu benar-benar suatu ujuan yang nyata. (107). Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (108). Dan Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian.
Rangkaian pembahasan ayat di atas satu persatu dapat dilihat penyampaian pendidikan yang dilakukan Nabi Ibrahim kepada anaknya penuh dangan tanya jawab, bahkan disana juga terlihat adanya metode diskusi. Ini terlihat dari cara yang dilakukan Ibrahim kepada anaknya selalu ia tanyakan terlebih dahulu, dan tidak langsung mengambil kesempulan.
Metode ceramah
Metode caramah adalah cara penyampaian informasi melalui penuturan secarah lisan oleh pendidik kepada peserta didik. Cukup banyak ayat-ayat Al-qur’an tentang metode ini diantaranya.
Surah thaha ayat 23-25
Artinya” berkata Musa: Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku. Dan mudahkanlah untukku urusanku. Dan lapangkanlah kekakua dari lidahku. Supaya mereka mengerti perkataanku.
Surah al-‘araf ayat 35
Artinya” hai anak cucu Adam! Jika datang kepadamu ayat-ayatKu, maka barang siapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, niscaya mereka tidak merasa ketakutan”. Metode ceramah ini digunakan oleh Rasulullah untuk menyampaikan perintah-perintah Allah.
Surah Yunus ayat 23
Artinya” Maka takala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman dimuka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kamilah kembalimu, lalu kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
4.Metode demonstrasi
Metode demonstrasi adalah suatu cara mengajar dimana guru mempertunjukkan tentang proses sesuatu, atau pelaksanaan sesuatu sedangkan murud memperhatikannya.
Metode ini terdapat pada surah al-kahfi ayat 66
Artinya” Musa berkata kepada khidir “ Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadaku”
Kaitan ayat ini dengan aspek pendidikan bahwa seorang pendidik hendaknya:
Menuntun anak didiknya
Memberi tahu kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi dalam menuntut ilmu
Mengarahkan untuk tidak mempelajari sesuatu jika sang pendidik mengetahui bahwa potensi anak didiknya tidak sesuai dengan bidang ilmu yang akan dipelajarinya.
5.Metode eksperimen
Metode eksperimen dapat disamakan dengan experiment method. Eksperimen dimaksud untuk menguji kebenaran sesuatu dengan cara melakukan uji coba terhadap objek yang diteliti. Metode eksperimen adalah metode pengamatan objek fisik yang tentu saja alatnyadengan menggunakan indra.
Metode eksperimen terdapat pada surah ar-rahman ayat 33.
Artinya” Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menumbus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasinya, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.”
Penjelasan ayat di atas jelas mengisyaratkan adanya eksperimen, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah saw dalam mensucikan derinya dengan cara berguling di tanah karena mereka tidak menemukan air untuk mandi jinabat. Maka Rasulullah saw memperbaiki praktek yang dilakukan mereka yang sudah salah dan rasul langsung mencontohkan tata cara bersuci bukan dengan berguling di tanah akan tetapi dengan menggunakan debu.
6.Metode keteladanan
Sesuai dangan firman Allah swt dalam surah al-ahzab ayat 21
Artinya” sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah .
Metode ketaladan sangat penting dalam pendidikan, keteladan yang dimaksudkan adalah keteladanan dari pendidik karena pendidik selalu dicontoh dan ditiru anak-anak. Pendidik bukan saja guru tapi bisa orang tua, masyarakat bahkan Rasulullah. Keteladan Rasulullah dapat menjadi acuan bagi pendidik sebagai teladan utama, sehingga diharapkan anak didik mempunyai pendidik yang dapat dijadikan panutan.
7.Metode Amsal
Metode amsal sering disebut dengan metode perumpamaan yaitu cara mengajar dimana guru menyampaikan materi pembelajaran melalaui contoh-contoh atau perumpamaan. Amsal adalah bentuk jamak dari kata matsal yang berarti perumpamaan atau ibarat. Amtsal juga diartikan menyamakan sesuatu dengan sesuatu yang lain, dari kata mitsil yang berarti serupa atau seperti. Selain kedua kata tersebut, dijumpai pula kata matsil yang berarti menyerupai.
Metode amsal cukup banyak dalam al-qur’an namun disini penulis hanya mengambil satu contoh yaitu dalam Al-qur’an surah al-baqarah ayat 17-19 yang artinya:
“ Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli dan buta, dan tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat, mereka menyumbat telingahnya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.
8.Metode Targhib dan tarhib
Yaitu cara mengajar dimana guru memberikan materi pembelajaran dengan menggunakan ganjaran terhadap kebaikan dan hukuman terhadap keburukkan agar peserta didik melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan. Sebagai mana hadis nabi yang artinya:
“ Hadis Ahmad ibn Shalih, hadis Abdullah ibn Wahhab, Umar memberitakan kepadakudari Bakr ibn Suadah al-Juzami dari shalih ibn Khaiwan dari Abi Sahlah as-Sa’ib ibn Khallad, kata Ahmad dari kalangan sahabat Nabi saw. Bahwa ada seorangyang menjadi imam sholat bagi sekelompok orang , kemudian dia meludah ke arah kiblat dan Rasulullah melihat, setelah selesai sholat Rasulullah bersabda “ jangan lagi dia menjadi imam sholat bagi kalian.
Penjelasan hadis di atas tampak jelas dalam memberikan hukuman (marah ) karena orang tersebut tidak layak menjadi imam.
9.Metode pengulangan (tikror)
Yaitu cara mengajar dimana guru memberikan materi ajar dengan cara mengulang-ngulang materi tersebut dengan harapan siswa bisa mengingat lebih lama materi yang disampaikan. Metode pengulangan terdapat dalam al-qur’an surah al-fatihah ayat 6 dan ayat 7.
Artinya” Tunjukilah kami ke jalan yang lurus”.
(yaitu) jalan orang-orang yang telah engkau anugrahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) jalan mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. Kedua ayat ini sama-sama menjelaskan tentang kebenaran bahwa nabi diperintah hijrah dan kebenaran status mereka sebagai mukmin.
Komentar
Posting Komentar